Senin, 11 Desember 2017

METODELOGI TAFSIR MAUDU’I AYAT AL-QURAN TENTANG MANAJEMEN KEUANGAN (EFESIENSI DAN PRODUKTIVITAS)

Oleh
Ahmad Noval
Abstrak
Perencanaan majeman keuangan efesiensi dan produktivitas dalam Pendidikan sangat erat kaitannya dengan struktur masyarakat, ada tiga pendekatan dalam perencanaan, yaitu: pendekatan kebutuhan sosial, pendekatan ketenagakerjaan, pendekatan keefektifan biayaperencanaan pendidikan jika di lakukan adengan benar akan bisa unggul dibidang akidah dan akhlak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Perencanaan dan manajemen keuangan  dalam bidang pendidikan Islam sulit dipisahkan satu dengan lainnya. Perencanaan manajemen keuangan dapat dilihat sebagai suatu fungsi manajemen, sehingga erat kaitannya dengan fungsi-fungsi lainnya: pengorganisasian, koordinasi, pengawasan, dan penilaian. Perencanaan pendidikan Islam harus dilaksanakan dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut.

A.    PENDAHULUAN
Al-Qur’an dan hadist merupakan pedoman umat Islam dengan berbagai petunjuk agar manusia dapat menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini. Untuk memperoleh petunjuk tersebut diperlukan adanya pengkajian terhadap al-Qur‟an dan hadist itu sendiri, sehingga kaum muslimin benar-benar bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pada isi kandungan al-Qur’an tersebut yang di dalamnya kompleks membahas permasalahanpermasalahan yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang belum terjadi. Semua hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, maupun keberadaan alam ini sudah termaktub dalam alQur‟an dan hadist. Termasuk permasalahan perencanaan mulai dari asal kejadian manusia, sampai pada aktivitas yang dilakukan manusia semua tertulis di dalam al-Qur‟an dan hadist.
Perencanaan Pendidikan Islam tersusun dari dua kata yaitu perencanaan dan Pendidikan Islam. Perencanaan adalah suatu kegiatan untuk menetapkan aktivitas yang berhubungan 5W1H yaitu: apa (what) yang akan dilakukan, mengapa (why) hal tersebut dilakukan, siapa (who) yang melakukannya. Pertanyaanpertanyaan tersebut berkaitan dengan tujuan-tujuan yang akan dirumuskan, tekhnik, metode  yang dipergunakan, dan sumber yang diperdayakan untuk mencapai tujuan tersebut.[1]  
Perencanaan merupakan aspek penting dari pada manajemen keuangan. Manusia tidak boleh menyerah pada keadaan dan masa depan yang menentu tetapi menciptakan masa depan itu. Dengan demikian landasan dasar perencanaan adalah kemampuan manusia untuk secara sadar memilih alternative masa depan yang dikehendakinya dan kemudian mengarahkan daya upayanya untuk mewujudkan masa depan yang dipilihnya dalam hal ini manajemen yang akan diterapkan seperti apa. Sehingga dengan dasar itulah maka suatu rencana itu akan terealisasikan dengan baik.[2]
Gambaran tentang harapan (das sollen) masa depan itu mungkin baru merupakan impian atau sekedar cita-cita, atau mungkin pula sudah ada perkiraan jangka panjang ukuran waktunya, yang biasa disebut dengan visi. Sedangkan tugas yang akan dilakukannya disebut dengan misi, yaitu untuk menghasilkan bidang hasil pokok dengan ukuran standar normative tertentu dan dengan jalan strategi yang dapat diterima oleh semua pihak yang berkepentingan (Stakeholders).[3]
B.     Ayat Al-Quran Tentang Manajeman Keuangan (Efesiensi dan Produktivitas)
a.      Surat Al surah al-Kahfi ayat 103-104
قلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)
Katakanlah, ' Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.
b.      Surat al isra ayat 26-27
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26)
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا(27)
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
c.       Surah an-Nisa ayat 58
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا(58)
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

d.      Surat As- Shaff ayat 4:
   إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
e.       Surat al-Hasy: 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
f.     Surat Attaubah ayat 71:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
g.    Surat an-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan atau kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan yang keji, mungkar dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (An-Nahl : 90)  
h.      Surah al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.





C.    Kajian Metodologi Tafsir Maudu’i Al-Qur’an Tentang Manajemen Keuangan Efesiensi dan Produktivitas
Adanya perencaan merupakan hal yang harus ada dalam setiap kegiatan, tidak hanya dalam susunan manajemen. Allah menegaskan dalam al-Qur’an Q.S. al-Hasy: 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tafsir:
Menurut „Ali al-Shabuni mengartikan lafadz “wa al-tandzur nafsun maa qaddamat lighot” adalah hendaknya masing-masing individu untuk memperhatikan amal-amal saleh apa yang diperbuat untuk menghadapi hari kiamat.[4] 
Dalam tafsir Al-Maraghi penjelasan lafadz “Ma qaddamat yaitu apa yang telah dilakukan,”Ghat” yaitu hari kiamat, dinamakan ghat (besok hari) karena dekatnya, sebab segala yang akan datang (terjadi) adalah dekat sebagaimana dikatakan sesungguhnya besok hari itu bagi orang yang menanti adalah dekat. Pengertian secara ijmal yaitu orang-orang mukmin agar tetap bertaqwa dan mengerjakan di dunia yang bermanfaat di akhirat, sehingga mereka mendapatkan pahala besar dan kenikmatan yang abadi.[5] Ayat ini memberikan pesan kepada orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Dalam dunia manajemen, pemikiran masa depan yang dituangkan dalam konsep yang jelas dan sistematis disebut dengan istilah perencanaan atau planning.[6]
Perencanaan pendidikan mengenal prinsip-prinsip yang perlu menjadi pegangan baik dalam proses penyusunan rancangan maupun dalam proses implementasinya. Prinsipprinsip perencanaan pendidikan yaitu efisien, efisien dan fleksibel.
Ayat-ayat al-Qur’an yang dapat dijadikan acuan hal tersebut adalah Surat Al-Isra, ayat 26-27 (tentang efisien)
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26)
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا(27)
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Tafsir:
Dalam tafsir Al-Qurthubi, Firman Allah لاتُبَذِّر maksudnya, jangan boros membelanjakan harta pada jalan yang tidak benar. As-Syafi’I RA berkata,  Tabdzir “ adalah mengeluarkan harta untuk hal-hal yang bukan haknya, namun tidak ada Tabdzir dalam hal kebaikan, ini juga menjadi pendapat jumhur. Lafazh الْقُرْبَى (saudara-saudara) adalah pemboros-pemboros itu menjadi sama hukumnya dengan syetan, karena pemboros berusaha membuat kehancuran sebagaimana para syetan.[7] Menurut Dr. Wayan Sidarta; “pekerjaan yang efektif ialah pekerjaan yang memberikan hasil seperti rencana semula, sedangkan pekerjaan yang efisien adalah pekerjaan yang megeluarkan biaya sesuai dengan rencana semula atau lebih rendah, yang dimaksud dengan biaya adalah uang, waktu, tenaga, orang, material, media dan sarana.[8]
Asbabunnuzul Al-Isra ayat 26
Ath- Thabrani meriwayatkan dari Abu Sa‟id al-Khudri bahwa ketika turun ayat, “dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat” Rasulullah memanggil Fatimah lalu memberinya fadak (Timbunan kurma/ gandum).[9] Surat al-Kahfi ayat 103-104 (tentang efektif)
قلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)
Katakanlah, ' Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

Tafsir:
Dalam tafsir Al-Qurthubi lafazh :
Menunjukkan bahwa diantara manusia ada yang melakukan amal, ia mengira bahwa ia berbuat baik, padahal usahanya itu gagal (sia-sia), dan yang menyebabkan kegagalan usahanya itu bisa berupa rusaknya keyakinan ataupun riya. Jadi, mereka adalah orang-orang yang paling merugi amal perbuatanya, mereka adalah: Yaitu menghambakan kepada selain kepada selain-Ku, Ibnu Abbas mengatakan maksudnya adalah kaum kafir.[10]
Kedua kata efektif dan efisien selalu dipakai bergandengan dalam manajemen karena manajemen yang efektif saja sangat mungkin terjadinya pemborosan, sedangkan manajemen yang efisien saja bisa berakibat tidak tercapainya tujuan atau rencana yang telah ditetapkan.
Proses manajemen, pada dasarnya adalah perencanaan segala sesuatu secara mantap. Tujuannya untuk melahirkan keyakinan pelaku organisasi untuk melakukan sesuatu sesuai dengan aturan serta memiliki banyak manfaat. Perbuatan yang tidak manfaat adalah perbuatan yang tidak pernah direncanakan, maka tidak termasuk kategori manajemen yang baik. Allah mencintai perbuatan-perbuatan yang dikelola dengan baik, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat As- Shaff ayat 4:
   إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Tafsir:
Dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan Allah menyatakan cintanya kepada hambanya yang beriman, bilamana mereka bersusun berbaris dengan teratur menghadapi musuh-musuh Allah di medan perang.[11] Sa‟id bin Zubair mengatatakan bahwa Rasulallah SAW. Ketika akan memulai peperangan dengan musuh selalu lebih dahulu mengatur barisan dan menyusun rencana seakan-akan mereka suatu bangunan yang kokoh.[12] Kokoh disini bermakna, adanya sinergi yang rapi antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Jika hal ini terjadi, maka akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Dalam Al-Qur’an surat Attaubah ayat 71:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dalam konsep manajemen Islam, setiap manusia, hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuatnya pada masa lalu, sebagian bagian dari perencanaan hari esok. Perencanaan yang akan dilakukan, harus sesuai dengan keadaan situasi dan kondisi masa lampau, saat ini, dan presiksi masa yang akan datang. Sebab perencanaan merupakan bagian terpenting dari kesuksesan. Sebuah perencanaan berawal dari sebuah analisis kebutuhan dan kemampuan, dari yang bersifat fisik maupun psikis. Disamping analisis kebutuhan dan kemampuan, perlu dilakukan pula analisis (SWOT) kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan peluang (opportunity), dan ancaman (threat) dengan adanya perencanaan tersebut, akan diketahui kekurangan dan kelebihannya. Hasilnya, akan diperoleh sebuah perencanaan yang matang, serta berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan itu.
Dalam proses perencanaan terhadap program pendidikan yang akan dilaksanakan, khususnya dalam lembaga pendidikan Islam, maka prinsip perencanaan harus mencerminkan terhadap nilai-nilai islami yang bersumberkan pada al-Qur'an Dalam hal perencanaan ini al-Qur'an mengajarkan kepada manusia : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 (Al-Hajj : 77)
Selain ayat tersebut, terdapat pula ayat yang menganjurkan kepada para manajer atau pemimpin untuk menentukan sikap dalam proses perencanaan pendidikan. yaitu dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan atau kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan yang keji, mungkar dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (An-Nahl : 90)  
Dalam perencanaan pendidikan harus selektif terhadap informasi, agar dalam membuat perencanaan bisa memperkirakan masa yang akan datang sesuai yang direncanakan, sesuai dengan surah al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Pendekatan Sosial  
Perencanaan Pendidikan sangat erat kaitannya dengan struktur masyarakat, Ada tiga pendekatan dalam perencanaan, yaitu:
1.      Pendekatan Kebutuhan Sosial
Pendekatan kebutuhan social adalah pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat pada saat ini. Pendekatan ini menitikberatkan pada tujuan pendidikan yang mengandung misi pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. Wajib Belajar Sekolah Dasar sekarang ini merupakan contoh dari penerapan pendekatan ini. Ada tiga kelemahan pendekatan kebutuhan sosial, yaitu: (1) pendekatan ini mengabaikan masalah alokasi dalam skala nasional, dan secara samar tidak mempermasahkan besarnya sumber pendidikan yang dibutuhkan karena beranggapan bahwa penggunaan sumber daya pendidikan yang terbaik adalah untuk segenap rakyat Indonesia, (2)  pendekatan ini mengabaikan kebutuhan perencanaan ketenagakerjaan yang diperlukan di masyarakat sehingga dapat menghasilkan lulusan yang sebenarnya kurang dibutuhkan masyarakat, (3) pendekatan ini cenderung hanya menjawab pemerataan pendidikan saja sehingga kuantitas lulusan lebih diutamakan daripada aslinya.[13]
2.      Pendekatan Ketenagakerjaan 
Pendekatan pendidikan dalam pendekatan kebutuhan ketenagakerjaan mengutamakan keterkaitan lulusan sistem pendidikan dengan tuuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sektor pembangunan dengan tujuan yang akan dicapai adalah bahwa pendidikan itu diperlukan untuk membentu lulusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik, sehingga tingkat kehidupannya dapat diperbaiki.[14]
Penelitian Blaug dan Faure menyimpulkan bahwa masalah pengangguran di kalangan terdidik dapat ditekan dengan memperbaiki sistem dan perencanaan pendidikan. Perbaikan sistem dan perencanaan pendidikan bukan berarti  pendidikan harus melahirkan lulusan yang siap pakai. Kalau yang dimaksud dengan siap pakai. Tugas utama lembaga pendidikan formal adalah memberi bekal kepada peserta didik agar mampu menyesuaikan diri secara cepat dan adaptif terhadap perkembangan iptek yang terjadi di dunia kerja, mencetak lulusan yang bekerja secara produktif, dan membentuk lulusan menjadi manusia seutuhnya berdasarkan pancasila dan UUD 1945.[15]
3.      Pendekatan Keefektifan Biaya
Pendekatan ini menitik beratkan pemanfaatan biaya secermat mungkin untuk mendapatkan hasil pendidikan yang seoptimal mungkin, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pendidikan ini hanya diadakan jika benar-benar memberikan keuntungan yang relative pasti, baik bagi penyelenggara maupun  peserta didik. Sebagai contoh: pembukaan sekolah-sekolah Magister Manajemen, Magister Manajemen, Magister Bisnis Administrasi, dan kursus-kursus. Kelemahan pendekatan ini adalah pengelolaan dana pendidikan terutama di Negara berkembang masih sangat lemah.[16]
D.    Kesimpulan
Perencanaan adalah proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan. Adapun fungsi perencanaan pendidikan Islam adalah sebagai berikut: sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, menghindari pemborosan sumber daya, upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan, perencanaan meliputi usaha untuk memetapkan tujuan atau memformulasikan tujuan yang dipilih untuk dicapai, dengan adanya perencanaan maka memungkinkan kita mengetahui tujuan-tujuan yang kan kita capai, dapat memudahkan kegiatan untuk mengidentifikasikan hambatan-hambatan yang akan mungkin timbul dalam usaha mencapai tujuan.
Prinsip-prinsip perencanaan pendidikan yaitu:  fleksibel, perencanaan harus bersifat komprehensif, efektif dan efisien, memperhitungkan semua sumber-sumber yang ada atau yang dapat diadakan. Perencanaan dari Dimensi Waktu antara lain: perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah, perencanaan jangka pendek. Perencanaan dari Dimensi Jenis antara lain: perencanaan dari atas ke bawah, perencanaan dari bawah ke atas, perencanaan menyerong ke samping, perencanaan mendatar, perencanaan menggelinding, perencanaan gabungan atas ke bawah dan bawah ke atas.
Adanya perencaan merupakan hal yang harus ada dalam setiap kegiatan, tidak hanya dalam susunan manajemen. Allah menegaskan dalam al-Qur’an Q.S. al-Hasy: 18, Ayat ini memberikan pesan kepada orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Dalam dunia manajemen, pemikiran masa depan yang dituangkan dalam konsep yang jelas dan sistematis disebut dengan istilah perencanaan atau planning. Dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Niat merupakan syarat fundamental dalam setiap perbuatan. Begitu pula dalam pendidikan niat merupakan syarat fundamental yang menjadi acuan dalam pelaksanaan pendidikan dimana dengan niat tersebut akan jelas tujuan serta perencanaan pencapaian tujuan pelaksanaan pendidikan tersebut.
Perencanaan Pendidikan sangat erat kaitannya dengan struktur masyarakat, ada tiga pendekatan dalam perencanaan, yaitu: pendekatan kebutuhan sosial, pendekatan ketenagakerjaan,  pendekatan keefektifan biaya.
E.     DAFTAR PUSTAKA
Antonio, Muhammad Syafi‟I, Muhammad SAW the Super Leader Super Manager. Jakarta: Prophet Leadership & Management Centre (PLM), 2007.
Ali al-Shabuni, Muhammad, Shafwat al-Tafasir, Jilid IV, Beirut: Dar alFikr, tt.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Terjemah Tafsir Al- Maraghi, Semarang: Toha Putra, cet I, 1989.
Amrullah, Abdul Malik Abdul Karim (Hamka), Tafsir Al-Azhar juz 28, Surabaya: Yayasan Latimontong, 1975.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam, Terjemah Tafsir Al-Qurthubi Jilid 10, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008. 
-------------------------, Terjemah Tafsir Al-Qurthubi Jilid 11, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Al-Thahhan, Mahmud, Taysir Mushthalah al-hadits, Riyadh: Maktabah al-Ma‟arif, 1989.
Bassam, Abdullah bin Abdurrahman Ali, Syarah Hadist Pilihan BukhariMuslim, Jakarta: Darul Falah, 2002.
Baharuddin, Manajemen Pendidikan Islam, Malang: UIN Press. 2002.
Bafadal, Ibrahim, Manajemen Perlengkapan Sekolah, Teori dan Aplikasinya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Bandrudin. Administrasi pendidikan. Bandung: Insan Mandiri, 2004.
Berita, Lintas, Gunakan Lima Perkara Sebelum Lima Perkara dalam http://www.lintasberita.com/Fun/Tips-Trick/gunakan-5-perkarasebelum-datang-5-perkara-lainnya,diakses, sabtu, 17 November 2012
Chalil, Moenawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Engkoswara, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010
Farid, Syaikh Ahmad, 60 Biografi Ulama Salaf, (Jakarta: Pustaka alKautsar, 2006
Hamalik, Oemar, Perencanaan dan Manajemen, Bandung: Bandar Maju, 1991
Ismail, Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992
Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan: Suatu analisis Psikologi dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1989
M. Bukhari,dkk, Azas-Azas Manajemen, Aditya Media: Yogyakarta, 2005
Marno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: PT. Refika Aditama, 2008
Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
Nawawi, Hadari, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, Jakarta: Haji Masagung, 1985
Rahman, M. Tohir, Terjemah Hadist Arbain Annawawiyah, Surabaya: Al-hidayah, 1999
Sa’ud, Udin Syaefudin, Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif, Bandung: Rosdakarya: 2006
Salahud din Al-Adlabi, Manhaj Naqdil Matn, Beirut: Dar al-Afaq alJadidah, 1983
Sahertian, Piet A., Dimensi Administrasi Pendidikan , Surabaya: Usaha Nasional, 1994
Shihab, H.M. Quraisy, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1996, cet. XII
Sidarta, Made, Manajemen Pendidikan Indonesia, PT. Bina Aksara, Jakarta:1999
Sidarta, Jalaluddin, Sebab Turunnya ayat Al-Qur’an, Depok: Gema Insani, 2008
Suryosubrata B, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan,  Jakarta: Bina Aksara, 1983
Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, Yogjakarta: Aditya Media, 2008
Sumbulah, Umi, Kajian Kritis Ilmu Hadits, Malang: UIN Maliki Press, 2010
Syarifudin. Pengelolaan di Madrasah.Bandung: Pustaka Studi Pesantren dan Madrsah,2005
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992
Tim Departemen Agama RI, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986
Usman, Husaini, Manajemen: teori, praktik, dan riset pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009
Wirojoedo, Soebijanto, Teori Perencanaan Pendidikan, Yogyakarta: Penerbitan Liberty, 1985.




[1] Engkoswara, Administrasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 132.
[2] M. Bukhari,dkk, Azas-Azas Manajemen, (Yogyakarta: Aditya Media, 2005), hlm. 35-36.
[3] Udin Syaefudin Sa‟ud, Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif (Bandung: Rosdakarya: 2006), hlm. 5.
[4] Muhammad Ali al-Shabuni, Shafwat al-Tafasir, Jilid IV (Beirut: Dar alFikr, tt), hlm. 355.
[5] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al- Maraghi (Semarang: Toha Putra, cet I, 1989), hlm. 86-87.
[6] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya: Penerbit Erlangga, 2007), hlm. 30.  
[7] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Terjemah Tafsir Al-Qurthubi Jilid 10, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 615.
[8] Made Sidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1999), hlm. 4.
[9] Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya ayat Al-Qur’an, (Depok: Gema Insani, 2008), t.h.
[10] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Terjemah Tafsir Al-Qurthubi Jilid 11, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 174-175.
[11] Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Azhar juz 28 (Surabaya: Yayasan Latimontong, 1975), hlm. 158.
[12] Ibid, hlm. 158.
[13] Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 74.
[14] Udin Syaefudin Sa‟ud, Perencanaan Pendidikan…, hlm. 243.
[15] Husaini Usman, Manajemen: teori, praktik…, hlm. 75.
[16] Ibid, hlm. 78.